Salam kenal buat semua, Ikut nimbrung ya sesama orang Cimahi, sebetulnya di Cimahi itu dulu ada 3 bioskop, berikut ini kenangannya.
Salam,
Widodo
Sejak dulu Alun-alun Cimahi sudah jadi pusat keramaian. Masjid Agung belum ada, tempat ini dulunya adalah terminal oplet jurusan bandung. Rutenya hanya pulang balik saja alun-alun bandung dan alun-alun Cimahi , sedangkan jalan-jalan lain di Cimahi belum ada yang dilewati angkutan umum kecuali delman. Oplet sesungguhnya adalah mobil sedan buatan Eropa tapi karoserinya diveermak habis sehingga bisa muat banyak penumpang, sebagian terbuat dari plat besi tapi banyak pula yang dibikin dari kayu.
Disekitar alun-alun Cimahi ada tiga bioskop sebagai tempat hiburan paling top ketika itu, yaitu bioskop Harapan (sekarang toserba ramayana), Rio theater dan bioskop misbar (gerimis bubar) Nusantara di jalan babakan. Diantara ketiganya bioskop misbar Nusantara adalah yang paling murah bayarnya sekaligus banyak meninggalkan kesan bagiku.
Ketika itu hiburan yang paling keren adalah nonton film di bioskop. Aku lahir di tengah-tengah keluarga yang melarat sehingga sangat susah bagiku untuk membeli karcis. Kalau sudah kepingin betul nonton film, maka sejak jam empat sore aku sudah menyelinap dan bersembunyi di dalam bioskop bersama teman, begitu penonton yang resmi pada masuk jam tujuh malam maka kamipun baru keluar dari persembunyian menggabungkan diri.
Bila malam minggu tiba, akang-akang dan euceu-euceu yang masih lajang akan pergi ke bioskop secara berombongan. Kang Atang, kang Dudu, Kang Nana pergi berombongan dengan ceu Kokom, ceu Yati dan ceu isah sedangkan yang sudah punya pacar memilih pergi berduaan. Pakaiannya tentu saja celana cutbray yang bagian bawahnya lebar menyapu jalan. Yang uangnya berlebih memilih Rio theatre tapi buat yang pas-pasan misbar sajalah sudah cukup, seingatku harga karcisnya Rp. 250,- untuk tiga film..
Apabila film mulai diputar keadaan di dalam misbar riuh rendah oleh teriakan dan suit-suit, demikian pula kalau ada adegan cium atau kalau jagoannya menang berkelahi. Para penonton duduk di atas bangku tembok memanjang dan sebagian lain memilih tempat di sudut-sudut yang gelap kadang berbau pesing. Film yang paling digemari apalagi kalau bukan film India. Raj Khapoor, Amitabh bachan dan Hema malini adalah bintang-bintang yang kesohor waktu itu.
Misbar juga merupakan tempat kupu-kupu malam kelas murahan beroperasi, dengan suaranya yang dibikin manja mereka menyapa, “Hayu atuh Kang kita maen, barang sekocok dua kocok”, apabila si akang setuju maka mereka berdua segera menyelinap ke dalam gelap. Waktu itu aku masih terlalu kecil untuk mengerti, sehingga peristiwa mesum itu tidak meninggalkan kesan apapun.
Apabila hujan turun para penonton berlarian ke pinggir tembok mencari tempat berteduh dan bila hujan sudah reda kembali mereka menyebar ke tengah. Aku sangat senang kalau cuaca sedang terang, sambil mendongakkan kepala dalam misbar aku memandang bintang-bintang bertaburan di langit. Besoknya sudah pasti akupun akan jadi bintang di sekolah, bercerita tentang film yang aku tonton. Teman-teman yang lain seperti bergantung pada bibirku mendengar aku bercerita.
Menurut kata orang di dalam misbar juga ada hantunya. Pernah ada cerita seorang pemuda berkenalan dengan gadis yang sangat cantik, lalu mereka jalan berduaan ke rumah gadis tersebut dengan hati berbunga-bunga. Rumahnya kelihatan bagus sekali dan dia nginap semalam disana. Tapi ketika terbangun pagi-pagi, ternyata pemuda itu sedang tidur sambil memeluk batang pohon di tengah-tengah kuburan santiong (kuburan cina). Pemuda itupun lari sekuat-kuatnya sambil terkencing-kencing. Benar tidaknya wallahu’alam.
Lewat jauh malam pemutaran film selesai. Para akang dan euceu kembali pulang berombongan. Di sepanjang jalan mereka terus memperbincangkan cerita film yang barusan dilihat, apabila ada yang salah mengerti jalan cerita, maka yang lain mentertawai beramai-ramai. Sesampai di rumah biasanya mereka duduk-duduk dulu di teras melanjutkan obrolan sambil mencegat tukang bajigur, setelah puas baru berangkat tidur.
Sekarang bioskop misbar nusantara sudah lama tutup. Di depannya dibangun Masjid, katanya untuk mencegah maksiat. Cuma bioskop Rio yang masih bertahan. Sekalipun bangunannya sudah lama tutup tetapi kenangannya masih tetap hidup dalam angan-anganku